Bertemu Abu Dahdah di Wisata Penikmat Subuh

Editor: Redaksi author photo
Tausiyahnya Ust Agus Taufan
Pekan ke 11 ( Sebelas) dengan Tema Abu Dahdah Pribadi Perindu Surga
Air sesekali masih menetes dari dedaunan di sepanjang jalanan, hujan tiba lebih dahulu daripada waktu subuh di minggu 20 oktober 2019 kali ini. Angin membawa gigil, dan itu godaan terberat bagi setiap pejuang subuh. Dini hari yang lengang seperti biasanya, namun suasana berbeda tampak terlihat dari Masjid Miftahul Jannah komplex pasar Sarimalaha. Di teras Masjid tampak beberapa ibu - ibu sibuk menyiapkan sesuatu untuk para jamaah. Sekitar dua meja tersedia untuk menjamu para pecinta subuh yang akan berwisata kali ini. Cemilan ala kadarnya, lengkap dengan teh dan kopi rempah, hasil dari sumbangan para dermawan, yang bagi saya begitu luar biasa, sedekah yang membuat segalanya terasa mewah.

Ini semacam upaya saya menunaikan janji, menuntaskan niat mengikuti wisata penikmat subuh. Seperti minggu-minggu kemarin, wisata subuh kali ini memasuki pekan ke 11 (sebelas), hari ini tausiyahnya membawa tema; ABU DAHDAH Pribadi Perindu Surga, bab keutamaan bersedekah. Yang dibawakan oleh Ust Agus Taufan. Setiap minggu tema yang diangkat berbeda-beda.

Pertama mengaji fadhilah keutamaan sedekah seperti yang dituturkan Ust Agus Taufan, dibuka dengan teladan ahlak mulia yang harus dicontoh oleh setiap anak-anak masa kini dari seorang anak sahabat Rasulullah. Dikisahkan, suatu hari Rasulullah memberi soal tebak-tebakan pada para sahabat,
"Pohon, pohon apa yang buahnya banyak, manfaatnya banyak, di makan oleh orang banyak, dan daunya tak pernah gugur?


Semua sahabat Rasulullah tak bisa menjawab, kebetulan saat itu, hadir juga anak lelaki Umar bin Khattab yang masih kecil. Dan Anak Umar bin Khattab tahu jawabannya, bergumam dia dalam hati, pohon itu pasti pohon kurma. Melihat seluruh sahabat tak bisa menjawab tebakannya, Rasulullah kemudian menjawab; Pohon itu adalah pohon kurma.
Dalam perjalanan pulang, Anak Umar bin Khattab berkata, ayah sebenarnya aku tahu jawaban tebakan Rasulullah tadi, tapi aku memilih tak menjawabnya, karena ada teman-teman ayah, ada Rasulullah, aku memilih tak menjawab karena tak mau membuat malu ayahanda. Karena pertanyaan itu ditujukan pada ayah dan teman-teman ayah, bukan pada aku.

Pesan dari kisah pendek ini, kadangkala anak-anak yang bersekolah tinggi, merasa berilmu, lupa menghargai orang tuanya juga orang lain.

Pengajian fadhilah keutamaan sedekah kemudian dilanjutkan dengan kisah yang sanggup membuat mata saya berkaca-kaca. Lebih dulu, Ust Agus Taufan pelan dan syahdu melantunkan ayat Alquran, sebagai sebuah pengingat untuk kita semua. Adalah surat Al-Munafiqun ayat 10, yang artinya ---
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; Lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?"

Ayat ini sebagaimana dijelaskan oleh Ust Agus Taufan, andai saja kematian kita bisa ditunda sebentar saja, di izinkan oleh Allah kematian kita delay beberapa menit saja, apa yang akan kita lakukan? Bukan untuk umroh, bukan untuk haji, bukan untuk menghabiskan malam dengan shalat, tapi untuk mensedekahkan seluruh harta yang kita miliki. Seluruh keinginan manusia yang sedang menghadapi sakratul maut adalah sama, jika ditangguhkan sebentar saja waktu kematian yang telah datang, dia akan bersedekah, baik dia kaya maupun miskin. Betapa utamanya sedekah, sehingga permohonan setiap manusia hanya satu ketika hendak menemuai ajalnya, yaitu hidup kembali untuk semata-mata bisa bersedekah.

Pengajian fadhilah sedekah ditutup dengan kisah yang sungguh menggetarkan, dikisahkan di Yastrib (Madinah), Seorang yatim piatu miskin memiliki sepetak tanah, hendak membangun rumah di atas tanah yang tak begitu luas tersebut, tapi niatnya untuk bisa mandiri, bisa tidur di rumahnya sendiri tak bisa ditunaikan. Sebabnya, di tanahnya yang bersebelahan dengan kebun kurma seorang kaya, sepohon kurmanya bengkok sehingga tumbuh menjorok ke dalam tanah si yatim miskin. Si yatim hanya bisa membangun rumah jika pohon kurma itu di tebang.

Datanglah si yatim pada tuan kurma meminta izin untuk memotong pohon kurma bengkok tersebut, tetapi berkali-kali dibujuk, tuan kurma itu tak mau mengizinkan. Si yatim datang mengadu pada Rasulullah tentang masalah yang dihadapinya, Rasulullah tersentuh dan meminta untuk memanggil tuan kebun kurma yang tak mengizinkan kurma bengkoknya di potong menghadap. Tak lama berselang datang si tuan tanah tersebut, tak panjang lebar, disaksikan para sahabat-sahabat, Rasulullah memohon pada tuan kebun kurma agar mengizinkan sepohon kurma bengkoknya di potong, tapi tetap saja jawabannya sama, tidak! Rasulullah membujuk, jawaban tetap sama, sampai sahabat-sahabat disekeliling Rasulullah geram melihat penolakan tersebut. Hingga Rasulullah berkata, andai kau izinkan satu pohon kurma yang bengkok itu di potong, maka Allah akan membalasnya dengan keberkahan Surga. Kaget sahabat-sahabat Rasulullah mendengar penawaran istimewa itu, tapi sekali lagi jawaban si tuan kebun kurma tetap sama, tidak! Rasulullah terdiam, habis usaha untuk menaklukan hati si tuan kebun.

Melihat peristiwa itu, seorang sahabat mendekat dan berbisik pada Rasulullah. Jika diantara kami bisa membujuk tuan kebun ini dan ia setuju, apakah tawaran surga tadi masih berlaku untuk kami? Yaa, jawab Rasulullah.

Lelaki yang berbisik di telinga Rasulullah itu Abu Dahdah namanya, ia kemudian menghampiri si tuan kebun. Di ujung jalan itu ada kebun kurma, isinya sekitar 500 pohon kurma, ada rumah di dalamnya, ada juga sumur yang airnya sangat jernih di dalamnya, itu milik saya kata Abu Dahdah. Andai kebun itu saya tukar dengan 1 pohon kurma bengkokmu itu, apakah kamu bersedia? Tuan kebun berkata kalau tawarannya seperti ini saya bersedia. Mendengar jawaban itu Abu Dahdah langsung menemui istri dan anak-anaknya, Abu Dahdah berkata pada istrinya, ambil barang kita yang secukupnya, kebun ini, rumah ini, bukan lagi milik kita. Istrinya kebingungan, bertanya ia pada Abu Dahdah. Kebun ini, rumah dan seluruh isinya telah aku jual pada Allah.

Mendengar itu istrinya langsung memahami, berkata istrinya dengan tegas, engkau suami bertanggungjawab, tak pernah mengecewakanku, jika ini sudah kau jual pada Allah, istrimu insha Allah ikhlas menerimanya. Keluar mereka dari kebun luas tersebut membawa kedua anak-anak mereka yang masih kecil. Anak-anak ku, kita akan cari rumah baru, ayah akan tanam lagi kurma di kebun yang lain, Allah akan menolong kita, ucap Abu Dahdah menghibur. Kemudian Abu Dahdah menemui si yatim tadi, pohon kurma bengkok ini telah aku sedekahkan padamu, potonglah jangan ragu-ragu, bangun rumah mu. Semoga jadi tempat berteduh yang nyaman.

Rasulullah yang mendengar apa yang telah dilakukan Abu Dahdah, berkali-kali keluar dari lisan Rasulullah; Berapa banyak taman di surga yang telah Allah persiapan untuk Abu Dahdah dan keluarganya. Seru Rasulullah mengucapkan kata kata tersebut berulang kali.

Inilah rahasia kenapa orang yang menghadapi sakratul maut merengek, keluar air mata. Orang-orang tersebut sedang menangis pada Allah, meminta untuk menunda sebentar kematiannya. Agar mereka bisa kembali bersedekah. Mari kita syukuri hidup kita, kita syukuri nafas ini, kita syukuri harta yang masuk, tapi ingat jangan sampai kita menyesal sebagaimana yang telah diingatkan Allah dalam Surat Al-Munafiqun Ayat 11.


Begitu banyak hikmah yang bisa kita petik dari kegiatan yang diinisiasi oleh Darul Mujtama Al-Qudwah ini. Sampai bertemu di wisata penikmat subuh minggu selanjutnya.

Ardiansyah Fauzi
Share:
Komentar

Terbaru