-->

JOKOWI KE AHOK ; "NABOK NYILIH TANGAN"

Editor: Indotema.com
[caption id="attachment_1356" align="aligncenter" width="600"] dr. Fikri Suadu | Foto Istimewah[/caption]

Oleh dr. Fikri Suadu
Wakil Ketua Asosiasi Terapan Neurosains Indonesia.


Masih ingat ucapan Ahok pada pertengahan Juni 2016 yang menyatakan bahwa "Jokowi tak bisa jadi Presiden tanpa pengembang"? Ucapan itu dikatakan Ahok pada saat isu reklamasi teluk Jakarta mencuat, setelah ditangkapnya Ariesman Widjaya yang merupakan Presiden Direktur Agung Podomoro Land. Seolah ingin menarik Jokowi kepusaran masalah yang dihadapinya, Ahok justru lupa bahwa walaupun Jokowi adalah "sahabat karibnya", tetap saja Jokowi bisa tersinggung dengan ucapan Ahok tersebut, terlebih Jokowi adalah seorang Presiden Republik Indonesia.


NALURI BERKUASA


Ayo kita flashback ke awal tahun 2012 pada saat Jokowi yang sedang menjabat sebagai Walikota Solo terlibat perseteruan dengan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo soal mobil Esemka. Sebagai seorang Walikota, berani berseteru secara terbuka dengan Gubernur tentulah bukan pilihan bijak, apalagi jika hanya Walikota biasa. Tapi dari situ kita bisa membuat asumsi bahwa Jokowi bukan sekadar Walikota biasa, apalagi setelah ia "nekat" maju, bertarung dan akhirnya terpilih di Pilgub DKI 2012 silam, semakin menegaskan bahwa Jokowi bukan orang biasa dan mempunyai hasrat untuk berkuasa.


Khsusus tentang hasrat berkuasa yang ada pada diri Jokowi, mendapatkan pembenaran pada saat ia kembali menunjukan kenekatannya saat duel dengan Prabowo dI Pilpres 2014. Untuk kesekian kalinya Jokowi menunjukan bahwa ia bukan orang biasa setelah berhasil terpilih sebagai Presiden Pada Pemilu 2014. Kehendak berkuasa Jokowi dinyatakan dengan melawan Prabowo Subianto yang tidak lain adalah tokoh utama pengusung beliau pada Pilgub DKI 2012.


Tak berhenti disitu, pun pada saat menjabat sebagai Presiden yang notabene diusung oleh PDI Perjuangan, berkali-kali Jokowi memberi kesan bahwa ia bukanlah seorang "yes man" belaka. Meskipun yang menyampaikan titah adalah Megawati Soekarnoputri, sang tokoh sentral di PDI Perjuangan, tak serta merta dituruti Jokowi. Faktanya bisa disaksikan pada saat Budi Gunawan tidak direstui Jokowi untuk menjabat sebagai Kapolri. Padahal bukan rahasia umum jika Budi Gunawan adalah orang dekat "kesayangan" Megawati.


Hal ini memberitahukan bahwa Jokowi tetaplah seorang Jokowi yang memiliki hasrat untuk sepenuhnya menjadi Penguasa di Republik ini. Satu persatu "lawan" politik berhasil ditundukan tanpa perlawanan. Mulai dari Setya Novanto sampai Soesilo Bambang Yudhoyono, semuanya "menghadap simpuh" ke istana negara.


Dasi situ tersirat kesan bahwa ucapan dan gelagat Ahok yang ingin menarik Jokowi ke pusaran konflik yang dihadapinya, secara tidak langsung telah membuat Sang Presiden merasa tidak nyaman bahkan tersandera. Rasa tidak nyaman tersebut adalah hal yang lumrah, apalagi Jokowi adalah Penguasa tertinggi di Republik ini. Dan sudah menjadi naluri bagi siapapun yang berkuasa untuk melepaskan diri dari berbagai ketidaknyamanan yang coba "mengangkangi" otoritas kekuasaannya.


KEHEBATAN JOKOWI


Tak perlu jauh-jauh mencari pembenaran soal itu. Di level kepemimpinan sekelas organisasi mahasiswa sekalipun, ketua umum bisa saja meradang apabila ada pihak lain (senior dll) yang coba membatasi ruang getak kekuasaannya. Apalagi di, level kepemimpinan tertinggi di tingkat kekuasaan negara. Sudah tentu Sang Presiden ingin menunjukan otoritas kekuasaannya.


Makanya tidak menutup kemungkinan bahwa kemenangan Anies Baswedan yang dikenal sebagai "teman akrab" Jokowi Pada Pilgub DKI dan vonis hukuman Ahok 2 tahun penjara adalah bagian dari upaya Jokowi melepaskan dirI dari "cengkraman" Ahok secara santun, alias "Nabok nyilih tangan".


Dengan segala instrumen kekuasaan yang dimiliki, rasanya hampir tidak mungkin Ahok bisa mengalami kekalahan dengan selisih yang sangat jauh.


Tapi apapun itu, setelah kejadian hari ini, sekali lagi saya dibuat kagum dengan kehebatan Jokowi. Setidaknya ia berhasil keluar dari kompleksitas kerumitan masalah Ahok secara "Khusnul khotimah". Sekali lagi, selamat Pak Presiden.


Walahualam bishawab...

Share:
Komentar

Terbaru