Merdeka Berkarya Berekspresi, dan Berkontribusi Sebagai Perayaan Keberagaman di Indonesia

Editor: Redaksi author photo
Rangkaian Gelaran ICCF 2019 di Ternate, Maluku Utara
Ketika Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, saat itu pula Bangsa Indonesia berdaulat penuh atas seluruh kekayaan tanah air, sekaligus bertanggung jawab dalam dalam pengelolaannya. Selain kekayaan alam, berbagai bentuk ekspresi dan tradisi – yang telah mendampingi kehidupan dan keseharian bangsa Indonesia secara turun-temurun di seluruh pelosok tanah air – secara alami telah tertanam sebagai kearifan lokal pada diri masing-masing manusia Indonesia. Hal ini menjadi modal dasar tingginya daya cipta, daya kreasi dan imajinasi, serta daya pikir manusia Indonesia, yang juga telah dimanfaatkan sebagai mata pencaharian dalam wujud karya. Sehingga wajar ketika aktivitas ekonomi yang mengandalkan kreativitas dan inteligensi ini,yang kemudian dipahami sebagai Ekonomi Kreatif, diproyeksikan untuk menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.

“Kabupaten/Kota Kreatif” yang terdengar sangat ideal sebagai tempat tinggal nyatanya sudah mulai banyak terwujud di Indonesia. Salah satu bentuknya ditandai oleh adanya festival sebagai perayaan atas keunggulan dan ekspresi kreatif lokal, yang juga menjadi cerminan kualitas capaian ekonomi kreatif daerah. Di Kota Ternate, Maluku Utara, pada 2-7 September 2019, akan diadakan Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2019. ICCF 2019 diselenggarakan tidak hanya sebagai perayaan potensi dan keunggulan kreativitas lokal, tapi juga menjadi momentum serta ruang aktif untuk mempertemukan dan menjalin kerja sama dalam jaringan kabupaten/kota seluruh Indonesia.

Pada ICCF 2019 pun akan diselenggarakanIndonesia Creative Cities Conference (ICCC) yang ke-5. ICCC sebagai salah satu dari rangkaian acara ICCF 2019 ini akan dilaksanakan pada 4-5 September 2019. Konferensi ini akan diisi oleh para ahli dan praktisi industri kreatif, seperti Erick Thohir (Chairman of Mahaka Group), Martin Hartono (CEO of GDP Venture), Wishnutama (President Commissioner of NET Mediatama), Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat), hingga Ricky Pesik (Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif/BEKRAF). Pada konferensi ini jugalah ICCN akhirnya akan meluncurkan 11 Jurus Kabupaten/Kota Kreatif kepada publik untuk pertama kalinya. Sebelas jurus yang disebut sebagai “Catha Ekadaksa” ini selaras dengan sasaran global The New Urban Agenda 2030 dan Sustainable Development Goals (SDGs).

Para Narasumber di Creative Cities Conference 2019 dalam gelaran ICCF 2019 di Kota Ternate, Maluku Utara

Catha Ekadaksa dapat menjadi solusi untuk pembangunan kabupaten/kota yang berorientasi pada potensi dan ekspresi kreativitas lokal. Berikut kesebelas jurus dalam formula Catha Ekadaksa;

1. FORUM LINTAS KOMUNITAS
2. KOMITE EKONOMI KREATIF
3. EKOSISTEM EKONOMI KREATIF (ITERASATARI)
4. NAVIGASI PEMBANGUNAN
5. MUSRENBANG INTERAKTIF (DESIGN ACTION)
6. INDEKS KABUPATEN/KOTA KREATIF (IKK)
7. COMMAND CENTRE
8. STRATEGI KOMUNIKASI DAN NARASI
9. CITY BRANDING MANAGEMENT
10. FESTIVAL KOMUNITAS
11. WIRAUSAHA DESA X KOTA

Untuk salah satu jurus, yaitu Wirausaha Desa X Kota, entitas yang telah berkontribusi secara signifikan adalah The Local Enablers (TLE). Suatu gerakan yang membentuk wirausaha-wirausaha baru, dengan menghubungkan potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) di desa dan pelosok daerah dengan potensi pasar, pengetahuan, jejaring infrastruktur dan finansial, dan SDM di kota.Penciptaan nilai kerja sama SDA dan SDM di desa dan di kota inimenggunakan metode Design Thinking. Dwi Purnomo, Deputi Pengembangan Bisnis ICCN sebagai inisiator TLE mengungkapan, “Melalui eksperimen, iterasi design thinking, intervensi kreativitas yang terus-menerus,pengembangan aktivasi kewirusahaan inklusif kreatif yang melibatkan sumber daya lokal, kami berhasil meningkatkan nilai tambah dan dampak baik bagi perekonomian daerah, sehingga komoditas lokal dapat tampil sebagai lokomotif bagi kemajuan perekonomian daerah.Sehingga dampak dan manfaatnya dapat segera dirasakan oleh seluruh pelaku yang terlibat di dalamnya, mulai dari petani, industri rumahan, dan pengusaha mikro di desa, hingga mitra mereka di kota.”

Metodologi TLE sangat mungkin untuk diduplikasi pada berbagai kondisi serupa di seluruh Indonesia. “Berbagai konten kreatif – dari 16 sub-sektor dan 4 elemen dasarnya – dapat disuntikkan ke dalam usaha mikro di seluruh Indonesia sesuai dengan potensi spesifik masing-masing. Membuktikan adanya penciptaan nilai baru melalui ekonomi kreatif semudah memperhatikan pengalaman keseharian kita. Contoh yang paling dekat adalah beragamnya harga dan kelas secangkir kopi, karena pelanggan bukan sekadar membeli biji kopi dan air matang dalam berbagai variasi, tetapi mereka membayar peralatan, tempat duduk, kemasan dan branding, suasana, serta keseluruhan pengalaman ‘minum kopi’ di tempat tertentu,” kata Fiki Satari, Ketua Umum ICCN.

Ketika seluruh stakeholders sektor ekonomi kreatif di Indonesia memperoleh keleluasaan dan kelancaran dalam menerapkan jurus-jurus Catha Ekadaksa, secara bertahap akan tercapai pembangunan Indonesia yang swadaya, inklusif, merata, serta nyata berdaulat terhadap seluruh sumber dayanya sendiri. Di usia Republik Indonesia yang ke-74 ini, dalam memaknai kemerdekaan, ICCN dengan jejaringnya yang telah tersebar di lebih dari 200 kabupaten/kota di Indonesia berkomitmen untuk siap mengawal keberlangsungan sinergi antara seluruh pelaku ekonomi kreatif, agar dapat terus berkarya, berekspresi, dan berkontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia. Merdeka!***

Share:
Komentar

Terbaru